Manisan , Asinan dan Aseman ala Cirebon

By: Ophoeng (ophoeng at yahoo dot com)
Photo by: Agape

Hai, apakabarnya nih ya?
Sudah pada makan belum? (Ini sapaan gaya China, jarene, jeh!)

Secara Bu Lia yang lagi merantau jauh merasa kangen sama cemilan khas Cirebon, saya koq ya jadi terkenang kembali ke aneka cemilan yang berupa manisan dan asinan ala Cirebon…..

RAMBUSA

Ini manisan bunga Frambozia (ati-ati dengan nama satu jenis penyakit kulit yang berupa semacam ‘patek-an, sebutannya juga ada ‘frambosia’ apa gitu lho!), dulunya sih adalah satu-satunya alternatif cemilan anak-anak sekolah pada umumnya di Cirebon.

Jangan tanya kemana pada tuh McD, KFC, Dunkin Donuts, apalagi J-co, atau apa lagi, jaman saya kecil mah cemilannya ya cuma aneka manisan dan asinan. Hasil kreasi nan kreatif para encim-encim iseng mengolah hasil kebun di halaman rumah yang luas, berupa buah-buahan dan bunga-bungaan: cereme,belimbing wuluh, pencit (kalo istilah di Cirebon sih, sorry, ‘pentil’) bantet yang dibuang sayang dan… jeruk nipis.

Saya sudah coba nanya kepada mesin-mesin pencari di i-net, memasukkan kata ‘rambusa’, tapi masih belum ketemu yang saya maksud. Barangkali ada di antara teman yang tahu juga ttg ‘bunga’ yang enak dibuat manisan ini? Silakan bagi-bagi ceritanya ya, syukur-syukur kalau ada
yang bisa kirim fotonya.

Atau barangkali Bu Elly Tjan sudah tahu dan mau bagi-bagi nih?

CEREME

Bentuk buahnya sebesar anggur (yang kecil), berwarna hijau pucat, bijinya besar. Mirip (atau sama?) dengan buah ‘anggur Bogor’, atau bahasa Indonesianya Ciremai? Kalau dimakan mentah ya asem banget, tapicocok buat ngerujak atau lutisan buat yang lagi ngidam sih. Beberapa
peracik rujak yang asli Betawi, suka menambahkan buah cereme mentah ini sebagai ‘finishing touch’,ditambahkan ke rujak buah-buah segar, supaya lebih terasa lagi asem-asem nan seger-meger-nya. Dimakan pas siang ari panas terik, pakai bumbu kacang dan cabe rawit, wah……

Biasanya sih dibuat manisan, dengan tambahan gula tentu! Biasanya lagi,gulanya sudah ‘manjing’ meresap jadi satu ke daging buahnya, diberi warna merah maron, setengah kering, ditoplesin, boleh diambil sebiji dua untuk dicicipi sebelum anda beli secara ons-ons-an.

BELIMBING WULUH

Namanya saja belimbing, tapi dedekan-nya sih beda banget dengan buah belimbing yang punya nama bule ‘star fruit’, buah bintang. Memang kalau anda iris melintang, irisannya itu berbentuk bintang berujung lima, pantes aja secara gampangan wong bule nyebutnya ‘star fruit’.

Belimbing wuluh bentuknya justru mirip labu siam ukuran mini, kulitnya hijau muda, agak lonjong. Biasa dipakai sebagai sayur juga, entah sayur asem atau sayur lain. Kalau dibuat manisan, biasanya di-iris-2 memanjang, atau dibiarkan utuh kalau ukurannya kecil. Ditaburi gula dan dijemur, sehingga warnanya berubah menjadi kehitaman. Biasa juga ditambahi garem, biar lebih kumplit rasanya: manis-asem-asin, jeh!

JERUK NIPIS

Nah, ini dia primadonanya manisan. Biasanya dipilih jeruk nipis yang berukuran besar,sekitar 100-150 mm diameternya.Dikupas kulit luarnya, lalu dicuci bersih.

Beberapa cara pengolahannya:

  1. Utuh-utuh bulet, diberi garam dan gula, diberi air sedikit dan dibiarkan dalam stofles. Kalau sudah matang, akan diperoleh semacam ‘jam’ atau selai jeruk nipis. Airnya akan berubah kental seperti sirup, bisa ditambah air menjadi ‘sirup’ jeruk nipis. Kalau dibuatnya dari jeruk ‘kiat-na’, disebutnya ‘lemon-cui'(?).
  2. Diberi garem, dijemur, dibuat menjadi gepeng dengan dilindaskan di bawah kayu penggilingan, atau pakai saja ulegan yang gampang. Dijemur dulu,lalu ditaburi garem lagi sedikit, sampai permukaan ‘jeruk penyet’ ini menjadi putih terlapisi garem.
  3. Sama-sama di’penyet’ dulu, taburan kedua diganti dengan bubuk kayumanis sampai tertutup semua permukaannya.Atau taburan boleh ganti dengan gula pasir. Jadi rasanya kumplit rame juga: manis asem asin, seger-meger punya dah!

ASAM JAWA & ASAM KRANJI

Diplih yang mateng dan retak pecah-pecah kulitnya, dijemur dan ditaburi gula pasir kasar atau halus. Kalau asam kranji ya ndak usahlah diolah lagi. Secara rasanya sudah cukup kumplit: asem dan manis tersama-samar. Bentuk asam kranji ini bulat gepeng, ukurannya paling juga berdiameter 50 mm, warna kulitnya hitam, agak keras, isinya berwarna orange-merah, bertaburan bubuk-bubuk halus, berbiji tunggal seperti asam Jawa juga bentuknya.
Cara makan: diadu dulu sesama asam kranji dengan cara dijepit dengan ibu jari dan telunjuk, lalu ujung asam kranji ditekankan ke ujung asam kranji lawan kita. Yang pecah duluan yang kalah, asamnya boleh menjadi milik pemenang. Asam kranji yang kalah dan pecah jadi apa? Yah… dimakan ajah , jeh! Hehehe…

MANGGA

Pastilah anda semua sudah tahu manisan mangga. Aneka rupa dan cara pengolahannya: yang basah terendam air, bekaseman(utuh-utuh diasin dalam air disimpan dalam stofles), yang nyemek atau yang kering.

Yang kering ajah bisa dihasilkan aneka jenis: yang irisannya tipis, pipih, dengan taburan gula yang sudah menyatu, daging buah lebar-2 dan warnanya kuning-orange. Ada yang nyemek, dengan irisan pendek-2, aneka warna: yang kuning-orange, hijau, atau gelap. Ada yang kering
sekali, berwarna hitam, keriting, dengan taburan garam putih. Istilahnya ada yang ‘pinggiran’, ‘maleman’ dan lain-lain. Apa maksud & mengapa disebut begitu, silakan tanya saja nanti ya kepada penjaja asinan & manisan buah di toko oleh-oleh nanti kalau pas ke Cerebon.

Atau barangkali anda sudah tahu? Silakan berbagi ajah ceritanya ya.

Wah, nyeritain cemilan manisan (atau aseman?) jaman dulu, bikin air liur terbit tak tertahankan. Entah apa sekarang masih ada cemilan model begitu, setelah ‘invasi’ jajanan moderen merasuk sampai ke segala peloksok kota dan kampung.Mungkin ada yang bisa bagi-bagi juga cerita ‘nasib’ cemilan jaman dulu rada baheula itu?

Salam manis-asem-asin,
Ophoeng

This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.