Oleh-oleh dari Surabaya 2

Terpesona di Toko 8
by Ine DW

Tempo hari setelah lebih dari sepuluh bulan umur NCC, nggak ada yang nyebut nyebut nama toko 8 ini. Sampai suatu saat aku dapat loyang dekil dari pasar ikan, loyang lidah kucing berbentuk kerang, yang katanya sudah tidak di produksi lagi.

Ini aku pamerkan di milis ini, siapa tahu, ada yang membantu kasi info, dimana bisa beli. Lalu Tanti menjapriku dan mengatakan kalau di surabaya, di Toko 8 ada bahkah bentuk bentuk lain juga ada, ntar kalau Tanti pulang ke surabaya akan di belikan.

Awal desember aku tugas ke surabaya, aku sempatkan keluar di jam makan siang bersama Monica, aku diantar ke toko 8, sesuai anjuran Tanti. Dan betapa terperangahnya aku… ini toko yang mirip gudang, menjual harta karun.

Aku bilang ke Monica, kenapa nggak bilang bilang kalau di surabaya ada toko yang seasyik ini koleksinya? Monica juga kaget melihatku kayak orang kampung pertama kali masuk kota…. terbengong bengong sambil ngiler. Pikir Monica, ini mah toko biasa saja.

Baker senior di bakery cabang surabaya yang kucritain hal inipun, menganggap, toko 8 itu biasa saja. bener2 aku nih norak bener. Tapi tentu saja kekagumanku pada koleksi toko 8 ini kusebar sebarkan di milis ini, karena memang mengagumkan dan nggak ada di Jakarta yang spt ini.

“Penemuan” loyang Chiffon berkunci kemarin, Monica juga komentar, dari dulu mah loyang Chiffon (di sby) juga kayak gitu. HAH??? jadi… ini barang biasa di surabaya???

Nah…teman, dimanapun kalian berada, cobalah sharingkan semua hal, bukan saja yang unik, yang biasa biasa juga nggak dilarang. Barangkali ini akan jadi luar biasa bagi teman di kota lain,
contohnya toko 8 dan loyang chiffon ini.

Ke toko 8 bersama teman2 penggemar masak, sangat seru, karena kami berbagi mata dan berbagi pendapat tentang suatu barang. Banyak loyang yang kami diskusikan bersama sebelum di beli.

Misalkan “Loyang bolong tapi nggak bolong” huahahaha…. Retno ngakak saat dengar nama loyang ini. Lha iya…loyang nya unik sih. Yang punya fotonya, mungkin ntar bisa share fotonya apa itu loyang “penipu” yang “bolong tapi nggak bolong”

Loyang Lidah kucing, dan Lidah anjing. hihihihi….mau pilih yang lidah gede atau lidah kecil… ini di bahas bareng2 dulu.

Sauce pan cuma harga 6.000 pun di bahas, beli satu atau dua, kalau beli dua, asyik tuh buat coklat, yang satu untuk mendidihkan airnya.

Setelah kami kelelahan menjelajah toko 8, kami duduk dekat meja kerja bu Emi, masih juga saling mengomentari isi keranjang teman yang lain. Sekali sekali jalan lagi ke dalam nyomot barang lagi. Bu Emi malah melayani kami langsung, dengan memberikan teh botol dingin.
Aduh… terkesan lagi, karena bu Emi sangat rendah hati dan ramah.

Tak lama bu Emi bawa satu cetakan sambil kasi tahu, ini loyang buat cake atau puding buah, di tengahnya ntar buat naruh buah dan vla. Biasa…….ada yang terprovokasi beli.:-))

Trus bu Emi bawa cetakan puding plastik… ini bikin puding telur puyuh, caranya begini …bla…bla…bla… lalu kami terprovokasi, bukan cuma telur puyuh…. tapi juga telur ayam kampung.

Aku beli Mocca Seruni, karena Liyah ingat, aku pernah menanyakan Mocca ini. hehehe… aku tersentuh dengan teman2 yang baik dan penuh perhatian. Mocca ini aku tanyakan sudah lamaaa sekali. tapi kog ya Liyah masih saja ingat.

Selain Liyah… Bulan Mei lalu, Tanti tiba tiba datang ke rumahku ngantar mocca seruni sebotol. Wow…. kejutan banget, aku sampe kaget, karena bahasan mocca kan sudah lama dan kulupakan. hiks… Tanti ini perhatian dan baik banget. Terharu aku.

Ya…mocca ini kan extract mocca, bukan pasta mocca artifisial, enak buat makan alpukad, untuk cake, minuman, ice cream dan pudding. Ini mocca yang kukenal sejak aku masih kecil, produksi surabaya. Dari dulu sampai sekarang, labelnya tidak pernah berubah. Kata bu Emi, ini
emang Mocca yang sudah puluhan tahun berproduksi, dan enak ketimbang pakai pasta mocca.

Semalam, bikin chewy cookies dengan muffiny, sebagian pakai mixed fruit, almond dan kenari, sebagian lagi pakai almond, kenari, mede, choco chips dan mocca seruni yang tidak di aduk rata, sehingga menghasilkan warna marble pada cookiesnya. yang mocca khusus pesanan Rachel yang ogah makan buah kering.

Semua bilang enak, meski bagiku, terlalu manis. hehehehe…. ntar kalau bikin mesti di campur terigu dan bahan lain lagi, karena muffinynya udah manis. Terkesan lagi dengan toko 8 yang royal kasi buah tangan, sekilo muffiny!.

Aku sempat ngobrol dengan putrinya bu Emi, katanya bu Emi pesan dengan anaknya, kalau mau bikin usaha lagi, jangan bikin toko kue, yang berarti akan menyaingi para pelanggan pelanggannya. ini artinya Bu Emi sangat menghargai dan menyayangi para pelanggannya.

Toko ini, selain besar dan lengkap, jam bukanya pun unik, macam toko kuno tempo dulu. buka pagi sampai siang jam 12 (atau jam 13), siang tutup, buka lagi jam 5 sampai jam 8 (ato 9).

Aku merasa banyak sekali pesona dari toko ini, ada juga ruang demo yang cantik dan modern, Keramahan bu Emi dan lengkapnya toko ini, membuatku bertekad, tiap ke surabaya, pasti akan aku samperin, siapa tahu dapat inspirasi baru saat muterin seisi toko ini.

Sebenernya pingin juga ke Arlisah yang jual potongan lontong…heheheh…ini benda ajaib yang diperkenalkan mbak Estherlita padaku. Pingin ke Arvian yang tempo hari di sharingkan
teman di sini. Pingin ke Sinar young yang juga tersohor. Pingin ke pasar turi dengan loyagn2 pasarnya, ke pasar atom dengan aneka jajanannya. Barangkali ini bisa jadi bahan pertimbangan teman2 jakarta untuk tour yad. Apalagi udah dapat penawaran menarik dari Bu Rudy yang tersohor, bisa menyewa rumahnya. (Ine DW)

This entry was posted in Photos & Stories. Bookmark the permalink.