Strategi Marketing untuk Meraih Loyalitas

VAS
stories & photo by Lia

Strategi marketing yang memberikan Value Added Service (VAS) bagi produk yang dijualnya, ternyata bukan hanya dilakukan oleh perusahaan2 service provider. Strategi yang berorientasi untuk meraih loyalitas customer (disamping meraih customer baru tentunya) ini, kalo diamat-amatin ternyata juga diterapkan di pasar tradisional.

Kalo dulu di pasar tradisional sistem kerjanya hanya: bongkar muatan, tata barang di meja/rak, pembeli datang, nunjuk barang yang dipilih, bayar, barang pindah tangan, beres. Sekarang? Proses barang sampai di customer bisa panjang karna barang2nya diberi perlakuan khusus lebih dulu oleh penjualnya. Dan strategi ini ternyata memberi dampak menguntungkan bagi kedua pihak (penjual & customer), khususnya working mother yang suka hal2 praktis karna harus mengatur waktu dengan ketat antara pekerjaan erte dan kantor.

Mengikuti pola hidup yang cenderung makin praktis, makin banyak penjual di pasar memberlakukan strategi VAS pada barang dagangannya. Contohnya di pasar penampungan yang gue critain sebelumnya. Walo kategorinya “pasar penampungan” tapi penjualnya kreatif2. Banyak yang khusus menyediakan bahan2 segar yang siap olah seperti: adonan daging+ayam giling segar berbumbu (siap diolah jadi bakso), rebung & labu siam yang udah dikupas & diiris2 julienne, bawang merah+putih kupas (ada juga yang udah rajangan), bawang merah+putih goreng, bumbu giling segar (bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, kunyit, cabe merah, dll), pete kupas, nangka muda yg udah bersih & diiris kasar untuk lontong sayur ato lodeh, sampe singkong parut & kelapa parut. Tentu saja harga yang dipatok rada lebih mahal dikit daripada bentuk dasarnya yang masih utuh & berkulit (selisih harga tergantung juga pada rumitnya proses menghasilkan VAS). Tapi toh biar mahal2 dikit tetep ajah laku keras. Dibanding dengan ribetnya, tenaga yang dikeluarkan dan lama waktu untuk sampai pada tahap yang sama, harga yang dipatok gak lagi jadi masalah. Time is money kan…! Coba bayangkan untuk membuat bawang goreng, kudu ngupas setumpuk bawang merah satu persatu sambil nangis2 kena rasa perihnya, trus ngirisin tipis2 satu persatu pula sampe abis, trus digoreng dengan api kecil biar ga cepet gosong, trus ditirisin sampe minyaknya abis & ditungguin sampe panasnya ilang, baru dimasukin toples. Kalo tiap tahap dikonversi ke waktu, coba itung brapa lama totalnya. Kalo tiap menit dikonversi ke nilai gaji si working mom, coba itung brapa rupiahnya. Itu baru bikin bawang goreng. Belum lagi ngupas+nggiling bumbu, ngupas+ngirisin labu siam, ngupas+marut+meras kelapa, waduh… brapa tuh yaaa….

Yang unik di pasar tradisional ini, gak semua VAS bertujuan untuk menambah nilai jual barangnya. Malah beberapa bahan dengan VAS harganya sama ato bahkan lebih ekonomis dari bentuk dasarnya. Hahh…?! Yang bener…?! Lha emangnya si penjual klewat nganggur kurang kerjaan gituh??? Karna itung2annya kalo smua pekerjaan & waktu dikonversi ke rupiah kek diatas, benernya keuntungan mreka beti (beda tipis) banget, mungkin nyaris impas ato malah rugi.

Well, gue pikir ide “VAS Ekonomis” ini dibuat dengan tujuan adalah untuk mengurangi ato bahkan mengeliminir kerugian yang mungkin timbul dari overstock dan rusaknya bahan baku. Misalnya, kelapa. Kelapa segar tanpa tempurung akan tetap awet sampe seminggu selama masih utuh (air didalamnya merupakan sumber nutrisi yg menjaga keawetan kelapa), sementara kelapa2 yang disusun bertumpuk (dan kadang2 dilempar2) tentu saja beresiko pecah & ga bisa awet lagih karna airnya dah berhamburan. Untuk menghindari kerugian dari rusaknya kelapa2 pecah tersebut maka kelapa langsung dikupas, diparut & dijual saat itu juga. Penjual pun selamat dari kerugian karna bisa tetap menjual kelapanya dengan harga standar. Singkong parut punya alasan yang sama dengan kelapa parut. Singkong bila dibiarkan terlalu lama akan kering & tidak lembut lagi bila dimasak. Tidak berbeda halnya dengan ikan segar yang mudah busuk. Dengan layanan gratis untuk membersihkannya akan banyak customer yang tertarik membeli (dengan harga yang sama, mending beli yg udah bersih daripada yg ngrepotin di dapur kan?). Kalo dagangan cepat ludes, tentu aja kerugian akibat membusuknya ikan dapat ditekan.

Gue cukup intensif memanfaatkan produk2 VAS di pasar, kecuali bawang kupas & bumbu giling. Gue punya langganan tetap untuk ikan segar yang udah dibersihkan, pete kupas, labu siam julienned, nangka muda, singkong parut & kelapa parut. Tentang dua yang terakhir ini cukup unik juga. Berbeda dengan jasa pemarutan kelapa dimana pembeli memilih kelapa utuh (minimal separo), trus dikupasin & diparutin penjualnya dengan tambahan biaya aliyas parut on demand (walah bahasane…). Nah kalo yang di pasar ini, si penjual memarut singkong/kelapa dalam jumlah banyak sekaligus dan ditampung di ember2 plastik. Untuk singkong parut dijual timbangan (gue perna beli sribu, dapetnya skitar 500-600 gram) sementara kelapa parut dimasukin kantong2 plastik yang tersedia dalam dua kemasan, yang kecil 500 perak, yang lebih gede 1000 perak. Isinya lumayan, kalo diitung2 jatuhnya lebih murah daripada beli kelapanya sendiri. Yang 500 perak misalnya, isinya hampir seperempat butir kelapa yang kalo beli versi potongan harganya 750 perak (kalo singkong utuh, sekilonya sribuan deh). Lebih murah sekaligus hemat tenaga untuk ngupas & memarut sendiri kan… Untuk menjaga kualitasnya, mreka ga marut banyak2 banget. Begitu kliat hampir abis baru mreka marut lagi, jadi aroma & rasanya fresh terus. Pembelinya cukup banyak, bahkan ada satu kios yang pembelinya sampe antre. Gue juga menjadi pelanggan kios yang satu ini. Penjualnya ibu2 madura yang udah setengah baya, tampangnya jutek tapi ramah, kerjanya cepat & tangkas, selain kelapa untuk santan si ibu juga menyediakan parutan kelapa setengah tua (biasa dipake untuk taburan kue, bumbu urap ato campuran bothok) yang gaada di penjual laen. Dan yang paling gue suka, takarannya lebih generous dari penjual laen :D:D Pantes aja laris manis…

Kenapa gue ga tertarik beli bawang kupas/rajang & bumbu giling? Well, gue ga perna masak dalam jumlah banyak2 jadi ngupas bawang 5-10 butir bagi gue ga jadi masalah. Sementara bumbu giling, gue ga yakin apakah bahan bakunya berkualitas ato gak, lagipula bumbu giling yang udah beberapa jam dalam wadah2 plastik itu pasti aromanya udah banyak menguap, pasti ga sedap lagi lah ya!

Jadi, biarpun banyak kemudahan2 dengan harga2 yang menggiurkan tetep aja kita harus cermat dalam memanfaatkannya sesuai kebutuhan kita kan? Ga jauh beda dengan VAS dalam teknologi telekomunikasi, layanan traffic monitoring yang canggih akan mubazir ajah kalo sehari2 kita berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang dinasnya di rumah😀

This entry was posted in Photos & Stories. Bookmark the permalink.