Memadukan Budaya Lewat Masakan

Bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja? Cobalah berkreasi. Padukan menu Barat dengan bumbu Indonesia, atau sebaliknya. Hasilnya pasti istimewa.

Seperti halnya bangsa Cina atau Jepang yang pandai mengolah makanan menjadi sajian yang lezat, bangsa Indonesia pun rasanya seperti itu. Dari Sabang sampai Merauke, tak sulit menemukan aneka makanan lezat. Ada rendang dari Sumatera Barat, rawon yang khas Jawa Timur, coto Makassar dari Sulawesi Selatan, atau nasi liwet dari Solo, Jawa Tengah.

Bagaimana jika menu lezat khas Indonesia itu diolah dengan sentuhan budaya lain dari mancanegara? Tentu saja, ini akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Dan hal itulah yang kini tengah dilakukan oleh para juru masak dari Hotel Gran Mahakam, Jakarta. Lewat program bertajuk Exotic Indonesia, hotel ini menyajikan aneka makanan eksotik itu mulai tanggal 12 – 20 Agustus mendatang.

Memadukan dua budaya (Indonesia dengan Barat, atau lainnya) dalam masakan ternyata bukan hal baru bagi Hotel Gran Mahakam. “Hal seperti ini memang sering kita lakukan. Di samping untuk memperkenalkan bumbu Indonesia yang taste-nya asam, manis, dan pedas, kita juga ingin memajukan masakan Indonesia ke forum internasional melalui tamu-tamu asing yang datang ke hotel kami,” kata Mardiana Budi, communication executive Hotel Gran Mahakam.

Mungkin Anda penasaran, seperti apa rupa dan rasa masakan hasil perpaduan budaya itu. Pastinya, semua menggoda selera. Ada selada pepaya dengan toping udang goreng, salad tofu saus rendang, iga sapi muda bakar saus satai, juga tenderloin dengan bumbu Indonesia. Nah, kalau selama ini kerap menyantap daging tenderloin yang diolah sebagai steak ala Barat, kini Anda bisa menikmati tenderloin dengan cita rasa baru. Daging has dalam yang empuk ini tidak disajikan dengan saus bercita rasa Barat, melainkan dengan saus rendang ala Sumatera Barat.

Menurut Mada Dicky Serang, executive sous chef Hotel Gran Mahakam, wujud sajian dari tenderloin ini mirip steak yang biasa Anda santap. “Ya, semacam steak hanya beda sausnya saja,” kata alumnus Jakarta International Hotel School ini. Untuk membuat sajian ini, menurut Dicky, ia menggunakan daging sapi dari Australia. Mengapa mesti daging impor? Ini bukan tanpa alasan.

“Daging impor biasanya berkualitas bagus karena cara beternak mereka yang baik, dan memang khusus untuk daging potong,” kata pria yang memulai kariernya di dunia perhotelan sejak tahun 1974 ini. Hal ini berbeda dengan sapi lokal, yang biasanya dipelihara bukan sebagai daging potong melainkan sebagai hewan pekerja sehingga dagingnya berotot dan keras. Daging seperti ini butuh waktu lebih lama untuk memasaknya. Karena itulah, Dicky memutuskan untuk menggunakan daging impor. “Selanjutnya, tenderloin dari sapi Australia itu dipanggang dan diberi bumbu khas Indonesia seperti kunyit, jahe, ketumbar, bumbu gulai, dan jeruk nipis,” ucap pria pekerja keras yang sangat mengutamakan kualitas pelayanan ini.

Perpaduan dengan budaya Jepang

Selain dengan budaya Barat, Dicky juga mencoba memadukan bahan pangan khas Jepang dengan bumbu asli Indonesia. Perpaduan dua budaya dari Timur ini bisa Anda nikmati pada salad tofu saus rendang.

Tofu, bukan rahasia lagi, merupakan bahan pangan sejenis tahu yang digemari masyarakat Jepang. Nah, di tangan Dicky, tofu diolah sedemikian rupa kemudian dibubuhi saus rendang. Bagaimana rasanya? Wah, pasti sedap. Jika berminat, Anda bisa membuatnya sendiri di rumah. Jangan khawatir, Anda pasti bisa mengolahnya sebab Dicky memberi resepnya untuk Anda (lihat boks).

Jangan khawatir pula dengan bahan-bahan untuk membuat salad tofu ini. “Bahan-bahan mudah didapatkan di pasar swalayan, dan saat ini di Jakarta sudah ada toko yang khusus menjual bahan-bahan makanan Jepang.” Nah, tunggu apa lagi? (bur/hid)

Source: Republika Online

This entry was posted in Articles. Bookmark the permalink.